KhasiatPusaka Cacing Kanil Keramat. April 25, 2019 April 25, 2019 KiMahaJagad. Pusaka Cacing Kanil ialah pusaka bertuah milik Master Khilman yang didapatkan melalui proses penarikan gaib di Gunung Kawi, Malang, Jawa Timur. Sebelumnya, mbah mendapatkan wangsit dari guru gaibnya untuk bertapa di Gunung Kawi. Berangkatlah mbah menuju ke Gunung
Tags arti cacing kanil, cacing kanil asli, cacing kanil sepuh, cara mengetes cacing kanil asli, cara mengetes keris cacing kanil, Jual Tombak Cacing Kanil, Jual Tombak Pusaka, khasiat cacing kanil luk 5, manfaat cacing kanil luk 3, Pusaka Tombak Cacing Kanil Majapahit Sepuh Kuno, tombak cacing kanil, tombak pusaka majapahit
Berikutkhasiat Pusaka Cacing kanil Puser Bumi: 1. Keberuntungan Meningkatkan pancaran aura positif yang akan mendatangkan keberuntungan dalam berbagai situasi dan kondisi Sebagai sarana buang sengkala, menjauhkan berbagai macam energi negatif yang sering menimbulkan kesialan dalam kehidupan Anda.
KerisKyai Sabuk Inten Pamor Pulo Tirto Tangguh Pajang Mataram Keris Kyai Sabuk Inten Pamor Pulo Tirto Tangguh Pajang Mataram Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sabuk Inten Luk 11 Pamor (motif lipatan besi) : Pulo Tirto Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Pajang Mataram Panjang Bilah : 34,3 cm Warangka : Gayaman Jogjakarta Kayu Timoho Kuno Handle / Gagang : Kemuning Bang Kuno Pendok :
Manfaat tuah Pengisian Khodam Nagaraja : Rp 3.250.000. Tersedia Paku Cacing Khodam Sakti PAKU CACING KANIL Dipercaya Guna : Membangkitkan Usaha, Niaga yang telah gagal (bangkrut) dan menghancurkan musuh yang membuat gagal atau akan membuat gagal usaha anda, dengan demikian usaha anda akan maju tanpa gangguan ilmu hitam musuh-musuh anda
SubscribeVia Email. Sign up for our newsletter, and well send you news and tutorials on web design, coding, business, and more! You'll also receive these great gifts:
CACINGKANIL, nama salah satu dapur tombak luk 3, 5 atau 7, mirip cacing menggeliat dan berbentuk beda dengan luk keris biasa, pada cacing kanil maka luk mengarah kesegala arah. Tombak dengan motif cacing kanil tidak pipih tetapi bulat atau persegi, bisa segi 3, 4 atau berbentuk belimbing.
JualBeli Keris Cacing Kanil Luk 3. Tersedia Produk aman dan mudah, jaminan uang kembali 100% di Bukalapak.
Kerisluk limabelas ada 3 macam. i. Keris luk tujuhbelas ada 2 macam. j. adalah perkiraan manfaat atau tuah keris, tombak, atau tosan aji lainnya. Sebagian pecinta keris percaya bahwa keris memiliki 'isi' yang disebut angsar. Cacing Kanil (Luk 3, 5, 7) Banyak Angkrem ; Kuntul Ngantuk ; Dapur Tombak Kalawaijan : Tunjung Astra ; Nagendra ;
BeliTombak Mini Cacing Kanil Luk 3 Lawasan Warangka Kayu. Harga Murah di Lapak Koleksi Antik Group. Pengiriman cepat Pembayaran 100% aman. Belanja Sekarang Juga Hanya di Bukalapak.
plz8. Mahar TERMAHAR Tn. AHP, Gatsu – Jakarta 1. Kode GKO-407 2. Dhapur Cacing Kanil 3. Pamor Singkir 4. Tangguh Cirebon Abad XVII 5. Sertifikasi Museum Pusaka No 1616/ 6. Asal-usul Pusaka Rawatan/Warisan Turun Temurun 7. Dimensi panjang bilah 22,2 cm, panjang pesi 11,4 cm, panjang total 33,6 cm 8. Keterangan Lain warangka seken original, methuk wijaya kusuma/kembang kliyang, eks kinatah ULASAN CACING KANIL, jika kita membuka serat-serat lama sebagai referensi penamaan sebuah dhapur dari suatu keris/tombak, seperti Kawruh Empu 1914, Kitab Sejarah Keris 1951, dan Buku Gambar 164 Keris dan 52 Tombak Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwana X akan ditemukan nama Cacing Kanil sebagai tombak yang mempunyai luk berjumlah lima 5. Kekhasan bentuk Cacing Kanil terletak pada kerampingan dan lengkung kurva yang menyerupai cacing sedang menggeliat. Berbagai cerita pitutur mengelilingi kemunculan cacing Kanil dalam jagad tosan aji Nusantara. Salah satunya menghubungkan Cacing Kanil dengan “isen-isen” tongkat komando yang selalu dibawa oleh Bung Karno, Sang Proklamator RI. Menurut catatan, pernah terjadi sekitar 6 kali percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno namun tak ada satupun yang berhasil. Kegagalan percobaan pembunuhan tersebut dipercaya tidak hanya karna faktor keberuntungan semata, namun sejak rentetan peristiwa itu masyarakat umum justru semakin percaya, bahwa sosok yang mempunyai kharisma kuat itu, juga memiliki piyandel yang diduga tersimpan di dalam tongkat komando. Itulah kenapa diam-diam tombak cacing kanil diidamkan oleh para pecinta tosan aji. Dipercaya pula jika dulunya Cacing Kanil adalah sebagai senjata untuk “menyudahi” mereka yang berilmu kebal hingga tidak mempan senjata apapun. Konon pula tombak Cacing Kanil difungsikan secara khusus untuk menembus kere waja atau baju zirah biasanya tombak/keris yang mampu menembus baja merupakan buatan Mpu Brajaguna zaman Kartasura-Surakarta. Dan memang secara ergonomi bentuk Cacing Kanil yang panjang dan ramping akan sangat cocok untuk menembus baju zirah model klasik, yang terbuat dari cincin-cincin besi yang saling sambung dan dijalin hingga seperti baju/rompi. KANGJENG KYAHI CLEREG, merupakan salah satu pusaka Keraton Kasultanan Yogyakarta yang berbentuk tombak. Tombak ini sebenarnya bukan dimiliki oleh Sultan maupun keluarga dekatnya, melainkan milik salah satu dari prajurit Pangeran Mangkubumi yang bernama Prawirarana. Peristiwa besar yang melibatkan kiprah tombak pusaka ini adalah ketika terjadi pertempuran di Jenar, Bagelen sekarang Purworejo pada tanggal 22 Suro tahun 1677 Jimawal atau 12 Desember 1751. Pemimpin pasukan belanda kala itu bernama Mayor Clereg berhadapan dengan abdi dalem Mantrijero, bernama Wiradigda. Mayor Belanda itu bersenjatakan pedang sedangkan prajurit Mangkubumi bersenjata tombak. Dalam perang tersebut tombak Wiradigda berhasil menusuk bahu sang Mayor, sehingga pedang yang dibawanya lepas dan terjatuh. Saat berupaya mencabut pistol dari ikat pinggangnya, prajurit lain yang bernama Prawirarana lebih sigap dan tangkas, tombak yang dibawanya segera ditusukkan ke leher Mayor Clereq hingga tewas seketika. Karena jasanya kepada Mataram, tombak tersebut oleh Pangeran Mangkubumi diminta dan diganti dengan imbalan mahar tertentu, dan diberi nama Kanjeng Kiyahi Klerek, karena tombak ini pernah menghilangkan nyawa Mayor Clereq. Mengenai pusaka tombak Kiyahi Klerek ada yang mengatakan berdhapur Bandotan, namun menurut KRT Hastono Negoro yang pernah merawat pusaka tersebut mengatakan bahwa dhapur tombak tersebut adalah Cacing Kanil Luk 7 tangguh Majapahit. FILOSOFI, Tombak Cacing Kanil, selain dikaitkan dengan legenda seorang tokoh bernama Syeh Siti Jenar dapat dibaca disini, dalam kitab Adiparwa juga disebut-sebut merujuk pada kisah sesosok ular naga Taksaka yang menjelma menjadi seekor ulat. Naga tersebut bersembunyi sebagai ulat di dalam buah jambu air serupa cacing bersembunyi dalam tanah merah. Dikisahkan, dalam cerita Adiparwa, dimana Dewi Kadru yang tidak memiliki anak meminta Resi Kasyapa agar menganugerahinya dengan seribu orang anak. Lalu Bagawan Kasyapa memberikan seribu butir telur agar dirawat Dewi Kadru. Kelak dari telur-telur tersebut lahirlah putera-putera Dewi Kadru. Setelah lima ratus tahun berlalu, telur-telur tersebut menetas. Dari dalamnya keluarlah para naga. Naga yang terkenal adalah Basuki, Anantaboga, dan Taksaka. Berlanjut pada kisah Mahabarata, Baratayuda telah berakhir dengan kemenangan di pihak Pandawa. Namun, semua putra-putra Pandawa tidak ada satupun yang masih hidup karena Pancawala-pun akhirnya juga terbunuh oleh Aswatama putra Resi Dorna. Tinggallah Parikesit, cucu Arjuna dan putra Abimanyu yang telah gugur di medan Kurusetra dengan Dewi Utari, yang kemudian dipersiapkan menjadi calon raja di Hastinapura. Setelah dianggap dewasa, Parikesit dinobatkan menjadi raja Hastinapura menggantikan Yudistira. Yudistira dan keempat saudaranya bersama-sama Drupadi kemudian mengundurkan diri dan meninggalkan Hastinapura untuk pergi menuju Puncak Mahameru. Salah satu kesenangan Parikesit ini adalah gemar berburu binatang di hutan. Diceritakan bahwa saat Maharaja Parikesit dari Hastinapura pergi berburu, ia kehilangan jejak buruannya dan masuk ke sebuah kediaman brahmana/pertapaan. Ia bertanya kepada seorang pertapa bernama Samiti yang sedang duduk bermeditasi karena hanya pertapa tersebut yang ia temui. Pertapa tersebut diam membisu saat Parikesit bertanya. Merasa tidak dihiraukan dan didiamkan, Parikesit menjadi jengkel, lalu mengambil bangkai ular dengan gendewanya dan dikalungkannya bangkai tersebut ke leher sang Begawan. Setelah itu ditinggalkannya begitu saja sang Begawan dengan lilitan bangkai ular di lehernya. Putra Samiti, yaitu Kalla Srenggi, merasa marah atas perbuatan tersebut. Atas penjelasan Sang Kresa yang mengetahui kejadian tesebut, Kalla Srenggi mengutuk Raja Parikesit agar mati digigit ular tujuh hari setelah kutukan diucapkan. Samiti kecewa pada anaknya yang telah mengutuk Raja Parikesit. Akhirnya ia pergi menemui raja tentang perihal kutukan tersebut, namun Raja Parikesit malu, dan lebih memilih melindungi diri dari kutukan dengan menggiatkan penjagaan atas dirinya. Kemudian Kalla Srenggi mengutus Naga Taksaka untuk membunuh Sang Raja. Pada hari yang ketujuh, naga Taksaka pergi ke Hastinapura. Di sana Sang Raja dilindungi dan dijaga oleh para brahmana, prajurit, dan ahli mengobati bisa. Agar mampu menjangkau Sang Raja, Naga Taksaka mengubah wujudnya menjadi ulat dan masuk dalam buah jambu. Lalu ia menyuruh naga yang lain untuk menyamar menjadi brahmana dan menghaturkan jambu tersebut. Pada saat Sang Raja menerima buah jambu dari brahmana yang menyamar tersebut, Naga Taksaka kembali ke wujud semula dan mengigit Raja Parikesit. Karena gigitan Sang Naga yang sakti, Raja Parikesit terbakar sampai menjadi abu. Berakhir sudah hidup sang Raja Parikesit di tangan Naga Taksaka. Kutukan Sang Srenggi sudah terlaksana, Naga Taksaka pun pergi masuk ke dalam bumi. Kisah tersebut di atas bisa diangkat menjadi hal yang positif. Sebuah pelajaran moral bagi seorang pemimpin agar selalu bertindak dengan kesabaran, tidak grusa-grusu dalam segala tindakannya. Bisa menghargai dan menghormati orang lain serta tidak membiarkan nalarnya dikuasai emosi sesaat, karena yang menanggung rugi bukan hanya dirinya sendiri tetapi juga mereka yang dipimpinnya. Dan di lain sisi bahwa setiap individu harus mempersiapkan segala hal dengan sedetail mungkin, maka di satu sisi ia harus pula bersiap menghadapi kemungkinan yang terburuk. Dan kepercayaan tombak Cacing Kanil bersembunyi di dalam tongkat untuk menemani pemiliknya, yang bila sewaktu-waktu dibutuhkan siap dihunus, dari awalnya tidak diperhitungkan akan menjadi senjata pamungkas, mematikan seperti sang Naga Taksaka. METHUK KEMBANG KLIYANG, apabila kita cermati lebih seksama pada bagian methuk tombak ini terdapat semacam bentuk kelopak bunga. Bentuk tersebut mirip dengan “kembang kliyang” atau bunga tiba, yakni motif dan hiasan yang terlihat pada rupa topeng Cirebon. Ornamen kembang kliyang hanya terdapat pada karakter Panji dan Patih/Tumenggung yang memperlihatkan watak manusia dewasa yang telah menemukan jati diri serta segala kebaikan dalam dirinya. Dalam keislaman, ia telah mencapai tingkatan tarekat dimana semua perilaku sehari-hari mengacu pada sunnah, hadist Nabi, dan Al-quran sebagai penunjuknya. WARANGKA SEKEN, Jika umumnya tombak-tombak dipasang pada landeyan dan diberikan tutup model kudup, terdapat pula jenis warangka tombak lain yang banyak dipakai oleh masyarakat, yakni warangka seken. Bentuknya ramping, layaknya perpaduan antara sandang walikat dan tongkat komando. Tombak yang biasanya disandangi dengan warangka seken umumnya bukan yang berbilah lebar dan panjang. Untuk memudahkan jika hendak disengkelit atau dibawa bepergian. Rata-rata merupakan tombak yang dipusakakan oleh pemiliknya. PAMOR SINGKIR, Adalah penamaan umum untuk motif gambaran pamor yang bentuknya menyerupai garis membujur adeg dari pangkal ke ujung bilah keris, tombak atau tosan aji lainya. Walau sebenarnya Singkir bukan nama pamor, melainkan nama seorang empu yang tidak hanya satu orang namun berasal dari zaman yang berbeda pula. Misalnya, ada Empu Singkir dari dusun Tapan pada zaman Pajajaran, Empu Ki Singkir Wonoboyo dari zaman Majapahit, Empu Singkir dari Sedayu, dan ada juga Empu Setra Banyu dari zaman Mataram. Kebetulan sebagian besar keris dan tosan aji yang dibuatnya banyak dijumpai menggunakan motif adeg. Keris/tombak yang dibuat oleh para Empu yang bernama Singkir tadi juga dipercaya melekat tuah-tuah khusus, seperti singkir geni memadamkan api, singkir banyu menolak hujan/banjir, singkir bayu meredakan angin, dan singkir baya menolak bahaya. Wallahu a’lam. CATATAN GRIYOKULO, Jika rata-rata methuk pada cacing kanil lebih banyak dibuat secara sederhana, bahkan methuk-nya seringkali hampir tak terlihat, maka methuk cacing kanil yang satu ini tergolong spesial dengan penampilan yang berbeda, menyerupai kelopak bunga. Di daerah Jawa bagian Tengah dan Timur dikenal dengan methuk wijayakusuma. Melihat guratan-guratan kalenan yang ada pada bagian methuk ini pula, sangat dimungkinkan jika dulunya pada bagian methuk cacing kanil ini diberikan hiasan logam seperti emas, perak atau lainnya. Pandangan mata selanjutnya akan tertuju pada bentuk luk rengkol yang manis, seperti luk keris atau tombak yang berasal dari tlatar Pengging. Dapat dibayangkan kiranya jika pada bagian methuk berhiaskan warna kuning dari emas, berpadu dengan lengkungan rengkol yang eksotis menghasilkan sebuah pusaka yang cantik namun mistis. Pada saat didapatkan cacing kanil ini penuh dengan endapan misik dan bau khas yang menyengat, wingit khas keris/tombak Cirebonan. Warangka seken model macan ali yang adapun masih original bawaannya dalam kondisi baik, digarap secara apik bahkan pada area mata diberikan semacam hiasan batu dan nyaman untuk digenggam. Tidak ada pekerjaan rumah yang menanti, panjenengan tinggal menyimpan dan merawatnya saja. Dialih-rawatkan dimaharkan sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera. Contact Person Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan Facebook Griyo Kulo SMS/Tlp/WA 0838-7077-6000 Email admin ———————————— error Courtesy of Griyokulo. Silahkan hubungi kami jika membutuhkan informasi, atau sharing kawruh atau sumbangsih dsb. Matur sembah nuwun. Salam Budaya